Hikmah Musibah yang Melanda Indonesia
“Musibah yang terjadi sekali itu teguran, yang kedua kalinya itu cobaan
dan jika berulang kali itu azab.”
Musibah adalah bagian dari ketetapan (qadha) Allah SWT. Akhir-akhir ini rentetan musibah bencana melanda Indonesia, mulai dari letusan Gunung Sinabung di Sumatera Utara hingga banjir yang terjadi di berbagai daerah dan yang ter-update gempa yang berpusat di kebumen. Menaggapi semua itu kita sebagai khalifah di dunia seharusnya mengintropeksi diri, mengapa bencana sering melanda di bumi pertiwi. Apakan ini hanya sebuah cobaan atau teguran yang semata-mata bertujuan untuk mengingatkan kita kepada sang Khalik ataukah ini sebuah azab yang diturunkan oleh-Nya, mengingat musibah ini berulang kali terjadi di setiap tahunnya.
Musibah adalah bagian dari ketetapan (qadha) Allah SWT. Akhir-akhir ini rentetan musibah bencana melanda Indonesia, mulai dari letusan Gunung Sinabung di Sumatera Utara hingga banjir yang terjadi di berbagai daerah dan yang ter-update gempa yang berpusat di kebumen. Menaggapi semua itu kita sebagai khalifah di dunia seharusnya mengintropeksi diri, mengapa bencana sering melanda di bumi pertiwi. Apakan ini hanya sebuah cobaan atau teguran yang semata-mata bertujuan untuk mengingatkan kita kepada sang Khalik ataukah ini sebuah azab yang diturunkan oleh-Nya, mengingat musibah ini berulang kali terjadi di setiap tahunnya.
Faktor
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh
perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari
kesalahan-kesalanhanmu)” Q.S. Asy- Syura :30
Dari dalil diatas manusia tidak bisa mengelak bahwa yang menyebabkan
berbagai bencana yang terjadi saat ini adalah perbuatan kita di masa lalu
meskipun itu semuanya berasal dari ketetapan-Nya. Bicara soal banjir ada 4
faktor yang berperan besar yaitu;
1. Curah hujan
2. Limpahan air hujan dari daerah lain
3. Keberadaan daerah resapan air
4. Kemampuan melimpahkan air keluar
Dari keempat faktor tersebut tidak ada yang tidak dipengaruhi oleh
aktivitas manusia. Meningkatnya intensitas curah hujan setiap tahunnya disebabkan oleh meningktnya suhu permukaan
bumi yang dipicu oleh berbagai aktivitas manusia yang mempercepat proses
terbentuknya uap air di udara. Meningkatnya curah hujan yang tidak didukung
oleh keberadaan daerah resapan air mengakibatkan semakin luasnya dampak banjir
yang terjadi.
Pengalihan lahan ruang terbuka hijau yang kerap
terjadi di kota-kota besar menjadi faktor penting pendukung semakin besarnya dampak banjir yang
terjadi, disamping itu buruknya ri’ayah (pengaturan bermasyarakat) yang diemban
oleh para penguasa menjadi faktor pendukung
kemudahan bagi para pengusaha rakus untuk meraup untung lebih besar
dengan menyulap daerah resapan air menjadi hunian mewah, pusat perbelanjaan
modern dll. Disisi lain tidak bisa dipungkiri, kebiasaan buruk manusia yang
terlanjur mewabah dan sulit diobati seperti membuang sampah tidak pada
tempatnya, membangun hunian di kawasan tepi sungai menjadi hal yang wajar jika
banjir terus menerus terjadi di bumi pertiwi.
Solusi
“Manusia hebat adalah manusia yang belajar
tidak mengulangi kesalan yang sama di masa depan.”
Meskipun banjir rutin terjadi setiap tahunnya,
manusia tidak pernah belajar dari apa yang telah dialami sehingga perstiwa
banjir seakan-akan menjadi kalender tahunan yang sering terulang dan semakin
sulit untuk ditangani. Kemiskinan yang mendorong orang menempati bantaran
sungai, keserakahan yang membuat daerah hulu digunduli, serta penanaman
pohon-pohon beton demi pemasukan daerah dan pemuasaan nafsu para kapitalis menjadi
contoh pokok permasalahan yang harus diselesaikan mulai sekarang jika manusia
menginginkan kehidupan yang lebih baik. Maka dari itu, sebagai awal perubahan
manusia harus bisa menjaga nafsunya dari keserakahan dan gengsi untuk berani
lebih baik. Cobalah untuk membuang sampah ditempatnya, menumbuhkan dan merawat
lingkungan hijau dan meminimalisir
pengguanaan produk-produk yang tidak ramah lingkungan. Jangan menunggu orang
lain berbuat jadilah pioneer untuk hal yang lebih baik dan acuhkan gengsi dalam
diri kita.

